Apr
20
Filed Under (Missionary) by sherpatristan on 20-04-2006
Berada dalam lingkungan yang asing, jauh dari keluarga dan sahabat dan terisolasi dengan peradaban yang belum tersentuh sepenuhnya dengan generasi microwave, PS2 apalagi internet, kadang membuat hati ‘ciut’ dan ingin segera kembali ke zona nyaman.

Dikelilingi oleh hutan, hamparan padi dan perkebungan tebu, terselip dalam kehidupan tradisional penduduk sekitar, membuat ‘hati angkuh modern’ terbabat habis di telan kesederhanaan.

Manusia-manusia luguh, steril dari penyakit mementingkan diri sendiri, tidak peduli dengan
kehidupan sekitar dan hidup mewah yang kebanyakan sumber penyakitnya berasal dari peradaban modern, memberikan cermin baru suatu komunitas. Pakaian yang sederhana, rumah yang berdindingkan bambu dan beratapkan daun pohon enau, dapur yang setiap hari penuh asap api kayu bakar. Anak-anak yang tidak terurus baik, kurang perhatian penuh orang tua, setiap hari berjalan beralaskan kulit telapak kaki sendiri, luka tidak terawat menjadi pemandangan biasa bagi mereka. Karena mereka belum mengenal handyplast, belum mengenal pampers, belum mengenal susu tambahan untuk pertumbuhan, apalagi timezome.

Itulah sekelumit kehidupan seorang misionaris yang ‘dipanggil’ untuk keluar, melintasi batas negara dan menyeberangi samudera, keluar meninggalkan zona nyaman kehidupan mapan bersama keluarga, sahabat dan pekerjaan sehari-hari dan mengemban ‘tugas suci’ di pundak yang ditulis dalam Matius 28:19-20.

Tidak ada yang bisa diandalkan selain penyerahan total kepada ‘Pemberi Mandat’. Kehidupan yang bergantung sepenuhnya pada ‘lutut kaki’ menjadi prioritas kebutuhan hidup mendasar. Kesombongan diri dikikis dan digantikan dengan kerendahan hati. Standart kehidupan dibawa turun ke level yang paling rendah untuk bisa menjangkau masyarakat sekitar. Berada dibarisan depan
untuk mengabarkan injil, Tuhan menjadi segala-galanya. Dikirim berpasangan, Tuhan menjadi Partner yang terbaik. Jauh dari keluarga dan sahabat, Tuhan menjadi Keluarga dan Sahabat.

Mengetuk pintu dan memasuki rumah setiap hari, mencari ‘domba yang hilang’, mencari orang yang lapar dan haus akan Air dan Roti Kehidupan, mengobati orang yang sakit jasmani dengan pengobatan yang sederhana dan dibarengi dengan doa yang ‘luar biasa’ … “it is not the medicine that healed but the Healing Hands of God,”… adalah kalimat yang selalu keluar dari mulut. 1000 rumah dimasuki, 1000 orang diobati, 1000 doa juga dilayangkang…

Berjalan berkilo-kilo meter setiap hari dengan obat dan Alkitab ditangan hanya untuk menemui mereka yang rindu untuk mendengarkan bahwa mereka juga telah diselamatkan, mereka juga berhak mewarisi kewarganegaraan Surga dan bahwa Yesus juga telah mati bagi mereka. Begitu menyedihkan melihat kehidupan moral yang merosot yang tergambar jelas dari raut muka penuh keriput akibat dosa, hidup yang tidak berpengharapan yang terpancar dari mata mereka tanpa
membiarkan mereka tahu bahwa ada pengharapan di dalam dunia yang penuh dengan dosa, ada kehidupan setelah kematian, karena Yesus juga telah mati buat mereka.

Missionary work is a real challenge and at the same time it is enjoyable. To love the unlovable, to reach the unreachable, to heal the unhealable, to touch the untouchable, to see the unseeable, to shake the unshakeable, to preach the unpreachable, to teach the unteachable and to enter the unentered place… that’s the Missionary life.

Karena kami percaya kepada ‘Pemberi Mandat’ itu. Kami percaya bahwa Yesus akan segera datang, tapi pekerjaan belum tuntas, masih ada telinga yang belum mendengarkan ‘Kabar Baik’ itu. Masih ada orang dan gereja yang tertidur yang perlu dibangunkan, masih banyak benih yang belum ditaburkan… tapi pekerja sedikit.

Puaskah Anda ketika melihat hanya Anda yang diselamatkan dan teman Anda tidak? Bahagiakah Anda ketika hanya keluarga Anda yang diselamatkan dan tetangga Anda binasa?

The Lord called us, Whom shall I send?
Here Am I Lord …
I can do it …
Send me…

Once A Missionary Always Missionary!

1000 Missionary Movement 24th Batch
Brgy. Napoles, Bago City

Negros Occidental
Philippines